Kejang demam (febrile seizure) merupakan salah satu keadaan gawat darurat pediatrik yang paling sering dijumpai di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kondisi ini, yang ditandai dengan kejang umum yang dipicu oleh peningkatan suhu tubuh tanpa adanya infeksi intrakranial atau penyebab metabolik akut, menimbulkan kecemasan tinggi pada orang tua dan memerlukan respons cepat serta terstandar dari tim kesehatan.
Bagi perawat IGD, penanganan kejang demam bukan sekadar prosedur teknis—ia merupakan integrasi antara kompetensi klinis, komunikasi terapeutik dengan keluarga, dan kepatuhan terhadap protokol berbasis bukti untuk memastikan keselamatan anak dan mengurangi trauma psikologis keluarga.
Artikel ini mengulas secara komprehensif protokol penanganan kejang demam pada anak untuk perawat IGD, ditinjau dari asesmen awal, intervensi prioritas, manajemen farmakologis, edukasi keluarga, dan dokumentasi yang akuntabel. Informasi lebih lanjut mengenai pelatihan keterampilan gawat darurat pediatrik dapat diakses melalui Akademi Keperawatan Belitung.
Memahami Kejang Demam: Definisi, Epidemiologi, dan Klasifikasi
Definisi dan Kriteria Diagnostik
Kejang demam didefinisikan sebagai kejang yang terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, terkait dengan demam (suhu ≥38°C), tanpa bukti infeksi intrakranial, gangguan elektrolit akut, atau riwayat kejang tanpa demam sebelumnya (ILAE, 2017).
Epidemiologi dan Faktor Risiko
| Parameter | Data | Implikasi Klinis |
|---|---|---|
| Insidensi | 2-5% anak di bawah 5 tahun | Kasus umum di IGD; perawat perlu siap menghadapi |
| Usia Puncak | 12-18 bulan | Fokus asesmen pada kelompok usia ini |
| Faktor Risiko | Riwayat keluarga, demam tinggi cepat naik, infeksi virus | Identifikasi anak berisiko untuk edukasi pencegahan |
| Prognosis | >95% tidak berkembang menjadi epilepsi | Penting untuk mengurangi kecemasan keluarga |
Klasifikasi Kejang Demam: Sederhana vs. Kompleks
| Karakteristik | Kejang Demam Sederhana | Kejang Demam Kompleks |
|---|---|---|
| Durasi | <15 menit | ≥15 menit |
| Jenis Kejang | Umum (tonik-klonik), fokal tidak ada | Fokal atau umum dengan fitur fokal |
| Frekuensi dalam 24 jam | Satu kali | Dua kali atau lebih |
| Status Neurologis Pasca-Kejang | Kembali normal dalam <1 jam | Ada defisit neurologis persisten |
| Risiko Berulang | ~30% | ~50% |
Catatan klinis: Kejang demam kompleks memerlukan evaluasi lebih mendalam dan rujukan ke spesialis saraf anak untuk menyingkirkan etiologi serius.
Protokol Asesmen Awal: Pendekatan Sistematis di IGD
Langkah 1: Primary Survey (ABCs) dengan Modifikasi Pediatrik
Prioritas pertama adalah memastikan stabilitas jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi.
| Komponen | Tindakan Perawat | Pertimbangan Pediatrik |
|---|---|---|
| Airway (Jalan Napas) | – Posisikan kepala netral/sniffing – Suction jika ada sekret – Pasang oropharyngeal airway jika diperlukan | Hindari hiperekstensi leher pada bayi; ukuran airway sesuai usia |
| Breathing (Pernapasan) | – Observasi usaha napas, saturasi O₂ – Berikan O₂ 2-4 L/menit via nasal cannula jika SpO₂ <94% | Saturasi target ≥94%; monitor apnea pasca-kejang |
| Circulation (Sirkulasi) | – Monitor nadi, tekanan darah, CRT – Pasang akses IV jika diperlukan | Nadi normal bervariasi sesuai usia; akses IV 24G untuk bayi |
Langkah 2: Pengukuran Suhu dan Identifikasi Sumber Demam
- Ukur suhu rektal (gold standard) atau aksila dengan termometer digital
- Catat pola demam: onset, durasi, respons terhadap antipiretik sebelumnya
- Identifikasi sumber infeksi: otitis media, faringitis, ISK, atau infeksi virus umum
Langkah 3: Anamnesis Terfokus dari Orang Tua/Pengantar
Gunakan pendekatan SAMPLE yang dimodifikasi untuk kejang:
| Komponen | Pertanyaan Kunci | Tujuan |
|---|---|---|
| Symptoms | “Apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah kejang?” | Karakterisasi episode kejang |
| Allergies | “Ada riwayat alergi obat?” | Keamanan pemberian farmakologis |
| Medications | “Obat apa yang sudah diberikan di rumah?” | Hindari overdosis antipiretik/antikonvulsan |
| Past history | “Riwayat kejang sebelumnya? Perkembangan anak normal?” | Identifikasi kejang demam berulang atau kondisi neurologis |
| Last intake | “Kapan terakhir makan/minum? Ada muntah?” | Risiko aspirasi, kebutuhan cairan |
| Events | “Ada trauma kepala, kontak sakit, atau vaksinasi baru?” | Identifikasi penyebab demam |
Langkah 4: Pemeriksaan Neurologis Singkat Pasca-Kejang
- Tingkat kesadaran: Gunakan Pediatric Glasgow Coma Scale (PGCS)
- Pupil: Ukuran, simetri, respons terhadap cahaya
- Tonus otot dan gerakan spontan: Identifikasi defisit fokal
- Tanda meningeal: Kaku kuduk, Kernig, Brudzinski (jika curiga meningitis)
Prinsip keselamatan: Jika kejang masih berlangsung saat anak tiba di IGD, prioritaskan penghentian kejang sebelum melanjutkan asesmen detail.
Protokol Intervensi: Manajemen Kejang Aktif dan Pencegahan Berulang
A. Manajemen Kejang Aktif (Jika Masih Berlangsung)
Langkah 1: Keamanan dan Posisi
✅ Baringkan anak di permukaan datar, miring ke kiri (posisi recovery)
✅ Longgarkan pakaian ketat, terutama di area leher
✅ Jauhkan benda tajam/keras dari sekitar anak
❌ Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut
❌ Jangan menahan gerakan kejang secara paksa
Langkah 2: Terapi Farmakologis Lini Pertama
Benzodiazepin merupakan pilihan utama untuk menghentikan kejang aktif:
| Obat | Dosis Pediatrik | Rute | Waktu Onset | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Diazepam rektal | 0,5 mg/kg BB (maks 10 mg) | Rektal | 5-10 menit | Pilihan jika akses IV sulit; siapkan spuit dengan kateter |
| Lorazepam IV | 0,1 mg/kg BB (maks 4 mg) | IV bolus lambat | 2-3 menit | Monitor depresi napas; siapkan alat resusitasi |
| Midazolam bukal/intranasal | 0,2-0,3 mg/kg BB | Bukal/intranasal | 5-10 menit | Alternatif non-invasif; absorpsi dapat bervariasi |
Protokol pemberian:
1. Kejang berlangsung >5 menit → Berikan benzodiazepin lini pertama
2. Jika kejang berlanjut setelah 10 menit → Berikan dosis kedua atau pertimbangkan lini kedua
3. Jika kejang tetap berlanjut → Siapkan fenitoin/fenobarbital dan konsultasi spesialis
Langkah 3: Manajemen Jalan Napas Lanjutan
- Siapkan alat suction, bag-valve-mask, dan intubasi jika diperlukan
- Monitor saturasi O₂ kontinu; pertimbangkan intubasi jika depresi napas berat
- Pasang monitor EKG untuk deteksi aritmia (jarang, tetapi mungkin pada overdosis benzodiazepin)
B. Penanganan Pasca-Kejang: Pencegahan Berulang dan Manajemen Demam
1. Antipiretik untuk Kontrol Demam
| Obat | Dosis Pediatrik | Interval | Maksimal Harian |
|---|---|---|---|
| Parasetamol | 10-15 mg/kg BB/dosis | 4-6 jam | 60 mg/kg BB/hari |
| Ibuprofen | 5-10 mg/kg BB/dosis | 6-8 jam | 40 mg/kg BB/hari |
Tips praktis:
✅ Berikan antipiretik segera setelah anak stabil, tidak menunggu demam sangat tinggi
✅ Kombinasikan parasetamol dan ibuprofen hanya dengan instruksi dokter dan monitoring ketat
✅ Edukasi orang tua tentang dosis berdasarkan berat badan, bukan usia
2. Hidrasi dan Monitoring
- Evaluasi status hidrasi: turgor kulit, mukosa mulut, produksi urin
- Berikan cairan oral jika anak sadar dan mampu menelan; pertimbangkan IV fluids jika dehidrasi atau muntah
- Monitor tanda vital setiap 15-30 menit hingga stabil, kemudian setiap 1-2 jam
3. Identifikasi dan Penanganan Sumber Infeksi
- Lakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk identifikasi fokus infeksi
- Pertimbangkan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
- Darah lengkap: Jika curiga infeksi bakteri serius
- Urinalisis: Pada anak <2 tahun tanpa fokus infeksi jelas
- Pungsi lumbal: Jika ada tanda meningitis atau kejang kompleks pada bayi <12 bulan
Komunikasi Terapeutik dengan Keluarga: Mengurangi Kecemasan dan Meningkatkan Kepatuhan
Strategi Komunikasi Saat Krisis
✅ Validasi emosi: “Saya mengerti Ibu/Bapak sangat khawatir. Kami akan membantu anak Anda.”
✅ Berikan informasi bertahap: Jelaskan apa yang terjadi, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang diharapkan selanjutnya
✅ Libatkan keluarga: Izinkan orang tua berada di samping anak (jika aman) dan berikan peran sederhana (memegang tangan, menenangkan)
✅ Gunakan bahasa sederhana: Hindari jargon medis; gunakan analogi yang mudah dipahami
Edukasi Pasca-Stabilisasi: Mencegah Kepanikan di Masa Depan
Poin edukasi kunci untuk orang tua:
| Topik | Pesan Kunci | Metode Penyampaian |
|---|---|---|
| Sifat kejang demam | “Kejang demam umumnya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kerusakan otak” | Verbal + leaflet ilustrasi |
| Pertolongan pertama di rumah | “Miringkan anak, longgarkan pakaian, catat durasi, jangan masukkan apa pun ke mulut” | Demonstrasi dengan boneka + video singkat |
| Kapan harus ke IGD | “Kejang >5 menit, kejang berulang dalam 24 jam, atau anak tidak sadar setelah kejang” | Checklist tertulis + kontak darurat |
| Manajemen demam | “Berikan parasetamol sesuai berat badan, kompres hangat, cukupi cairan” | Demonstrasi pengukuran dosis + jadwal obat |
| Risiko berulang | “Sekitar 30% anak mengalami kejang demam berulang; ini tidak berarti epilepsi” | Konseling individual + referensi ke sumber terpercaya |
Contoh dialog edukatif:
“Ibu, kejang yang dialami Ananda tadi disebut kejang demam. Ini terjadi karena suhu tubuh naik cepat, bukan karena kerusakan otak. Kebanyakan anak sembuh total tanpa efek jangka panjang. Yang penting, jika ini terjadi lagi di rumah, Ibu lakukan tiga hal: miringkan Ananda, catat berapa lama kejangnya, dan bawa ke IGD jika lebih dari 5 menit. Kami akan berikan leaflet dan video panduan untuk Ibu pelajari di rumah.”
Dokumentasi Keperawatan: Elemen Kunci untuk Akuntabilitas dan Kontinuitas Asuhan
Dokumentasi yang komprehensif penting untuk evaluasi klinis, komunikasi antar-shift, dan perlindungan hukum.
Elemen Minimal Dokumentasi Kejang Demam
| Kategori | Informasi yang Harus Dicatat |
|---|---|
| Kronologi Kejang | Waktu onset, durasi, karakteristik (tonik/klonik/fokal), respons terhadap intervensi |
| Parameter Vital | Suhu awal dan pasca-intervensi, nadi, pernapasan, SpO₂, tekanan darah (serial) |
| Intervensi Farmakologis | Nama obat, dosis, rute, waktu pemberian, respons, efek samping |
| Asesmen Neurologis | PGCS pra dan pasca-kejang, pupil, tonus, defisit fokal |
| Komunikasi dengan Keluarga | Informasi yang disampaikan, pertanyaan orang tua, tingkat pemahaman, edukasi yang diberikan |
| Rencana Tindak Lanjut | Rujukan ke spesialis, jadwal follow-up, instruksi pulang |
Contoh dokumentasi naratif:
“14.30: Anak masuk IGD dalam keadaan post-ictal, PGCS 12, suhu 39,2°C rektal. Orang tua melaporkan kejang umum tonik-klonik durasi ~3 menit di rumah. Primary survey: A patent dengan posisi miring, B spontan SpO₂ 97%, C nadi 130x/menit CRT 2 detik. Diazepam rektal 0,5 mg/kg (4 mg) diberikan 14.35. 14.45: Anak mulai responsif, PGCS 14, tidak ada kejang berulang. Parasetamol 120 mg oral diberikan 14.50. Orang tua diedukasi tentang manajemen demam dan pertolongan pertama kejang; memahami dan setuju dengan rencana pulang dengan follow-up poli anak besok. — Ns. Ani, S.Kep”
Tantangan Klinis dan Strategi Penanganan
Tantangan 1: Kejang Berulang atau Status Epileptikus Demam
Masalah: Kejang berlangsung >30 menit atau berulang tanpa pemulihan kesadaran di antaranya.
Strategi:
✅ Aktifkan protokol status epileptikus: benzodiazepin dosis kedua → fenitoin 20 mg/kg IV → konsultasi neurologi pediatrik
✅ Siapkan intubasi dan monitoring ICU jika depresi napas atau kejang refrakter
✅ Dokumentasikan timeline intervensi secara akurat untuk evaluasi respons terapi
Tantangan 2: Orang Tua yang Panik atau Tidak Kooperatif
Masalah: Kecemasan ekstrem orang tua dapat menghambat asesmen atau menyebabkan permintaan intervensi yang tidak indikasi.
Strategi:
✅ Tetapkan satu perawat sebagai “komunikator utama” untuk konsistensi informasi
✅ Gunakan teknik de-escalation: dengarkan aktif, validasi emosi, berikan pilihan terkontrol
✅ Libatkan dokter atau senior nurse jika diperlukan untuk penguatan pesan medis
Tantangan 3: Keterbatasan Sumber Daya di IGD Regional
Masalah: Ketersediaan obat, alat monitoring, atau tenaga ahli terbatas di IGD non-tertier.
Strategi:
✅ Kuasai protokol stabilisasi dan rujukan yang jelas
✅ Bangun komunikasi efektif dengan pusat rujukan sebelum transfer
✅ Manfaatkan telemedicine untuk konsultasi real-time dengan spesialis jika tersedia
Peran Akper Belitung Kab dalam Pelatihan Penanganan Kejang Demam
Sebagai institusi pendidikan keperawatan yang berkomitmen pada kompetensi gawat darurat pediatrik, Akademi Keperawatan Kabupaten Belitung mengintegrasikan pelatihan penanganan kejang demam melalui:
🔹 Simulasi Laboratorium dengan Manekin Pediatrik High-Fidelity Praktik skenario kejang demam dengan manekin yang mensimulasikan respons fisiologis, memungkinkan mahasiswa berlatih primary survey, pemberian obat, dan komunikasi keluarga dalam lingkungan terkendali.
🔹 Workshop Protokol IGD Pediatrik Berbasis Bukti Pelatihan intensif mengenai algoritma penanganan kejang, dosis pediatrik, dan dokumentasi klinis, difasilitasi oleh perawat IGD berpengalaman dan dokter spesialis anak.
🔹 Praktik Klinik di IGD dengan Pendampingan Intensif Penempatan mahasiswa di IGD rumah sakit mitra dengan preceptor yang kompeten dalam kegawatdaruratan pediatrik, memungkinkan aplikasi langsung protokol dalam setting nyata.
🔹 Evaluasi Kompetensi Berbasis OSCE Pediatrik Penilaian objektif melalui stasiun OSCE yang menguji asesmen kejang, manajemen farmakologis, edukasi keluarga, dan dokumentasi—memastikan kesiapan praktik sebelum terjun ke lapangan.
🔹 Kemitraan dengan Organisasi Profesi untuk Update Protokol Kolaborasi dengan PPNI, IDAI, atau IACRN untuk memastikan kurikulum dan pelatihan sesuai dengan pedoman nasional dan internasional terkini.
Informasi lebih lanjut mengenai program studi, fasilitas simulasi, dan kemitraan praktik klinik dapat diakses melalui laman resmi Akademi Keparawatan Belitung.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua anak dengan kejang demam perlu dirawat inap?
Tidak selalu. Anak dengan kejang demam sederhana, sumber infeksi jelas (misal: otitis media), dan kondisi umum baik dapat dipulangkan dengan edukasi dan follow-up. Rawat inap dipertimbangkan untuk: kejang kompleks, usia <12 bulan, kecurigaan infeksi serius, atau orang tua tidak mampu memberikan perawatan di rumah.
Kapan perlu dilakukan pemeriksaan EEG atau neuroimaging?
EEG dan neuroimaging (CT/MRI) tidak rutin direkomendasikan untuk kejang demam sederhana. Indikasi: kejang fokal, defisit neurologis persisten, kecurigaan lesi struktural, atau evaluasi epilepsi jika kejang berulang tanpa demam.
Apakah antipiretik mencegah kejang demam berulang?
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa antipiretik tidak secara signifikan mencegah kejang demam berulang. Namun, kontrol demam tetap penting untuk kenyamanan anak dan mengurangi kecemasan keluarga.
Bagaimana membedakan kejang demam dengan meningitis?
Tanda merah meningitis: kaku kuduk, fontanel menonjol (bayi), ruam petekie, iritabilitas ekstrem, atau kejang kompleks pada bayi <12 bulan. Jika dicurigai, lakukan evaluasi lebih lanjut termasuk pertimbangan pungsi lumbal.
Apakah perawat boleh memberikan diazepam rektal tanpa instruksi dokter?
Berdasarkan protokol standing order yang disetujui institusi dan dalam situasi gawat darurat, perawat kompeten dapat memberikan diazepam rektal sesuai dosis pediatrik. Selalu dokumentasikan dan laporkan segera ke dokter.

Penutup: Kecepatan, Ketelitian, dan Empati dalam Setiap Detik
Menangani kejang demam pada anak di IGD bukan sekadar menjalankan protokol—ia adalah perpaduan antara kecepatan respons, ketelitian asesmen, dan empati terhadap keluarga yang sedang dalam krisis.
Bagi perawat IGD, setiap episode kejang demam adalah kesempatan untuk:
✅ Menyelamatkan anak dari komplikasi yang dapat dicegah
✅ Mengubah kepanikan orang tua menjadi pemahaman dan kesiapan
✅ Berkontribusi pada sistem kegawatdaruratan pediatrik yang andal dan manusiawi
Kepada mahasiswa keperawatan yang sedang mempersiapkan diri untuk praktik gawat darurat: kuasai protokolnya, ya. Tetapi lebih penting lagi, internalisasi prinsip bahwa di balik setiap prosedur, ada anak yang membutuhkan keselamatan dan keluarga yang membutuhkan kepastian.
Karena keperawatan gawat darurat yang bermakna bukan tentang seberapa cepat Anda menyelesaikan tugas—melainkan tentang seberapa aman, terinformasi, dan terhiburnya pasien dan keluarga yang Anda layani di momen paling rentan mereka.
Prinsip penutup: Protokol yang baik tidak menggantikan judgment klinis. Ia memandu Anda untuk bertindak dengan dasar bukti—sementara empati dan komunikasi memastikan bahwa tindakan tersebut sampai ke hati, bukan hanya ke catatan medis
